Akuariumku

Senin, 11 Februari 2013

Selamat Tinggal Cinta Pertama



S
 aat itu, turun hujan di kota yang begitu lekat dengan nilai-nilai budaya itu. Masih ku ingat saat itu aku dan teman-teman pulang dari les pelajaran untuk Ujian Nasional nanti, aku berada di dekat Nita—teman sekaligus sahabat karibku—kami cepat-cepat untuk pulang karena takut hujan semakin deras. Disinilah aku menemukan sekaligus melepas cinta pertamaku. Aku bertemu dengannya saat aku dan Nita berpisah setelah tiba di pertigaan yang pastinya kami berbeda arah, padahal aku tak membawa payung, aku nebeng dengan Nita. Aku kebingungan, kalau pergi kerumah Nita dahulu aku takut di marahi ayah karena terlambat pulang. Tapi bila ke rumahku dahulu aku kasihan dengan Nita karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Dalam kebingunganku itu sebuah payung bersandar di dekatku. Seorang pemuda yang sebaya denganku mengulurkan payungnya padaku. Aku berusaha menolaknya, namun pemuda itu memaksaku untuk membawanya saja. Sedangkan dia berlari-lari kecil menuju sebuah kios kecil menghampiri sepedanya dan mengayuhnya sekuat mungkin menuju kejauhan. Nita tersenyum kepadaku, aku pun ikut tersenyum namun bercampur heran.             Sesampai di rumah aku langsung membersihkan tubuhku. Setelah selesai aku masih membayangkan pemuda yang tadi memberikan payungnya itu kepadaku. Aku merasa berhutang padanya, karena aku tak sempat mengucapkan terima kasih padanya. Malam itu aku melanjutkan belajarku. Detik-detik Ujian Nasional sudah dekat. Aku ingin lulus, karena aku ingin membahagiakan orangtuaku yang gagal dilakukan oleh kakakku yang meninggal dua tahun yang lalu akibat pesawat yang di tumpanginya untuk belajar ke Mesir mengalami kecelakaan. Aku harus bisa mewujudkan impian kakak yang ingin mengabulkan keinginan orangtuaku untuk mengunjungi tanah suci Mekkah. Aku yakin semua keinginanku ini akan tercapai dengan kerja keras dan semangat yang tak kenal lelah untuk terus belajar.
Pagi itu aku berangkat ke sekolah kembali dengan Nita, tak lupa aku membawa payung yang dipinjamkan oleh pemuda itu kepadaku tempo hari. Aku tak melihatnya, padahal kemarin disini dia meminjamkan payungnya kepadaku. Aku langkahkan kakiku ke kios di pinggir jalan itu untuk bertanya tentang pemuda itu. Pemilik kios itu  menyebut nama Hariri, begitu sebutannya nama pemuda itu. Pemilik kios itu menjelaskan bahwa pemuda itu memang bekerja disini, namun entah mengapa hari ini ia belum datang juga. Aku berpikir apakah ia sakit setelah kemarin ia hujan-hujanan. Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh dan bergegas berangkat sekolah karena kami hamper terlambat.          Di sekolah aku masih bertanya-tanya tentang pemuda itu. Aku penasaran tentang jati diri pemuda itu. Aku berusaha untuk mencari pemuda yang bernama Hariri itu. Sepulang sekolah aku bergegas ke ki-os tersebut, dan ternyata aku menemukan pemuda itu. Aku pun menghampirinya, dan mengutarakan kedatanganku. Aku mengucapkan terima kasih padanya telah meminjamkan payungnya padaku. Aku pun memperkenalkan diriku, begitupun dengan dirinya. Tatapannya begitu mengisyaratkan hal yang menyentuh hatiku. Hari ini, aku bertemu dengan pemuda yang berbeda dengan yang lainnya. Dan besok aku akan lebih jauh tahu tentang dia.          Tak pernah ku duga sebelumnya, Hariri ternyata hidupnya jauh lebih baik dariku. Dia putus sekolah sejak kelas dua SMP. Ia membantu orangtuanya untuk menghidupi keluarganya dengan bekerja di kios ke-cil ini. Walaupun hasilnya tak seberapa, namun masih bisa untuk menutupi kebutuhan hari ini. Aku merasa beruntung karena aku masih bisa makan tanpa harus membantu orangtua.                   Yang membuat aku suka dengan jati diri Hariri semangat-nya untuk belajar tak pernah putus walaupun ia tak bisa melanjutkan sekolah. Ia belajar dengan meminjam buku catatan milik temannya. Se-andainya ia sekolah mungkin ia sudah kelas tiga sepeti aku. Betapa he-batnya dia. Semangatnya tak pernah luntur walau ia tak mempunyai a-pa-apa. Ia hanya menyakini Satu keya-kinabahwa siapa saja yang mau berusaha pasti apa yang ia impikan pasti akan tercapai. Hariri me-mang teman sekaligus guru bagiku. Aku merasa beruntung mendapatkan teman sebaik dan sepintar seperti Hariri.
          Aku belajar banyak darinya. Setiap hari aku selalu bertemu dengannya di waktu sore. Aku pun tambah semangat untuk menggapai cita-citaku. Kare-na dia adalah sumber inspirasiku sekaligus teman curhatku.          Lama- kelamaan kami semakin akrab saja. Dari teman jadi saha-bat, dari sahabat aku merasakan hal yang aneh yang membuatku bingung sendiri. Aku merasakan hal yang berbeda dari saat aku berte-mu Hariri kali ini. Ku rasakan benih-benih cinta itu tumbuh diantara kami. Begitupun juga Hariri, merasakan hal yang sama denganku.          Aku menyimpulkan atas perasaanku ini, mungkinkah aku telah jatuh cinta pada Hariri? Entahlah. Tuntun hati hamba Ya Allah bila hati hamba memang jatuh hati padanya, namun apabila hati ini hanya sepintas saja bimbing hati hamba agar tidak terlalu jauh agar diriku maupun dirinya tak kecewa nantinya.          Hari ini adalah hari terakhir aku sekolah di sekolah ini. Besok, a-dalah hari pertempuran kami. Kami harus yakin kalau kami pasti ber-hasil. Sebelum aku pergi ke sekolah aku sempatkan untuk bertemu de-ngan Hariri, dia memberiku semangat yang begitu berkobar. Semangat yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku berjanji akan memba-hagiakan kedua orangtuaku dan tak lupa seseorang yang telah membuatku mengerti akan hikmah kehidupan. Aku percaya, Hariri akan bangga denganku, karena ini juga adalah sebagian hasil jerih payahnya untuk tak pernah berhenti belajar.          Lima tahun telah berlalu. Kini aku pulang ke-kota ini dengan membawa sejuta kebahagiaan. Aku merasa bangga dapat mengabulkan keinginan ke-dua orangtuaku. Akhirnya, keinginan untuk meng-injakkan kaki di kota Nabi itu. Namun yang mem-buat aku masih kurang lengkap dengan semua kebahagiaan ini adalah Hariri. Aku merindukan dia. Karena dialah yang telah membuat aku bisa jadi seperti sekarang, yang telah mengantarkan aku menjadi sarjana muda. Dan yang telah meminjamkan payungnya itu kepadaku.          Hariri, dimanapun kau berada, bagiku kau selalu dalam hatiku. Karena dirimulah yang membuat diriku menjadi orang pintar, menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.
          Aku bertemu dengannya dalam suasana hujan deras di bulan Ap-ril yang begitu pekat. Dan aku kembali ke kota ini di suasana dan tem-pat yang sama juga. Hujan tak begitu deras, aku duduk termenung di bawah etalase took yang dulunya kios kecil kini menjelma menjadi sebu-ah mini swalayan yang megah. Berharap aku dapat bertemu dengan Ha-riri walau hanya sekilas saja………  April di senja hari, 1998

1 komentar: